Resensi

Review Buku :The Alpha Girls Guide (Part 1) – Opini Subyektif

Penulis: Henry Manamoiring
Diterbitkan pada November 2015 oleh Gagas Media
Judul: The Alpha Girl’s Guide
ISBN: 9797808483 (ISBN13: 9789797808488)
Edisi Bahasa: Indonesian
Jumlah halaman: 254

Alpha girls1
The Alpha Girl’s Book

Menjadi cewek smart, indepen dan anti galau

Pertama kali lihat buku ini, lumayan bagus. Covernya juga menarik, kalau dibilang sih cewek banget. Sederhana tapi cewek. Ok, kali ini saya akan meringkas isi bacaan buku The Alpha Girl’s Guide. Setiap buku yang saya bedah tidak akan saya kritik alur, plot, dan lainnya, sebab saya bukanlah ahli dalam hal seperti ini.
Mengapa buku ini pantas untuk dibaca? Bagi saya pribadi buku ini keren karena bisa membuat saya sebagai pembaca menjadi termotivasi. Dan juga saya sebagai perempuan melihat bahwa jangan mau dianggap rendah hanya karena “perempuan”.
The alpha girl’s adalah para perempuan yang memiliki jiwa leadership (kalau menurut saya sih), keberanian, kecerdasan, dan kepercayaan diri.
Dalam buku ini yang menarik adalah penulis berprinsip bahwa perempuan butuh pendidikan yang tinggi. Saya sangat setuju dengan hal ini. Sebab jujur saja, saya masih memegang teguh hal ini “jodoh adalah cerminan kita”. Secara logika, jika perempuannya sekolah tinggi S1 pastinya dia akan mencari jodohnya yang sederajat minimal lebih rendah dari dia satu derajat lah ya hahah (#terkesan jahat). Selain itu mengapa perempuan perlu mengenyam pendidikan yang tinggi? Hal itu karena akan mempermudah perempuan dalam mencari pekerjaan. Bagi saya pendidikan yang tinggi mengajarkan kita bagaimana cara berpikir yang berbeda dari sebelumnya dan hal tersebut otomatis membuat kecerdasan kita akan semakin meningkatkan. Saya sangat percaya bahwa anak-anak yang cerdas terlahir dari ibu-ibu yang cerdas. Coba kita lihat berapa banyak anak-anak yang sukses dengan didukung salah satu faktor yakni ibu-ibu mereka mengenyam pendidikan yang tinggi. Pastinya kelak si anak akan termotivasi juga jika kedua orang tuanya pendidikannya tinggi.
Pada zaman sekarang sepertinya jarang ditemui jika anak perempuannya tidak diperbolehkan sekolah karena alasan nanti juga ujung-ujungnya dia kerja di dapur. Saya masih salut dengan perjuangan ibu RA Kartini, perempuan pertama yang mau bersekolah padahal pada saat zamannya, sekolah itu dilarang. Keren abisss..
Tapi entah mengapa, saya merasa sebagai pembaca buku ini menganggap bahwa the alpha girls yang diceritakan di buku adalah tipe wanita karir yang bebas dari laki-laki dan jangan mau ditindas, padahal saya (perempuan dan -calon istri juga-) masih berpandangan bahwa perempuan tetap harus menghormati laki-laki sebagai (suami). Bagaimanapun juga, nantinya seorang imam pasti laki-laki dan juga sebagai istri di masa depan, kita tetap harus menghormati dan memposisikan sebagai perempuan yang patuh kepada sang suami. Tapi saya tetap setuju bahwa perempuan “tidak boleh mengandalkan kebahagiaan dan kesejahteraan pada laki-laki”. Sebab kita tidak pernah tahu bagaimana ke depannya kita (perempuan). Jadi tetap harus waspada saja, tapi hal ini juga membuat agak was-was karena bisa jadi membuat perempuan membangkang kepada laki-laki karena pada dasarnya mereka (perempuan) pasti berpikir “saya bisa melakukan banyak hal tanpa kamu” atau “saya bisa melakukan banyak hal karena saya mencari uang sendiri”, pikiran semacam itu sepertinya cuma saya saja #hahahha.
Perlu diingat sebagai perempuan juga masih memiliki “perasaan” yang berbeda dengan laki-laki yang mana ketika dihadapkan sesuatu perempuan-perempuan ini menyikapinya dengan berbeda. Setegar-tegarnya perempuan mereka tidak setegar laki-laki. Perempuan masih tetap mengandalkan perasaan mereka, karena perempuan diciptakan 1 logika: 9 perasaan, berbanding terbalik dengan laki-laki. Akan tetapi sebagai perempuan kita harus tetap pandai-pandai mengendalikan perasaan agar tetap tenang dan masih bisa berpikir secara logis.
Hal lain yang menarik adalah kita perempuan harus waspada bahwa pernikahan itu tidak akan abadi. Saya tahu sebagai perempuan kita harus was-was diri, masih sangat jelas pengalaman ibu saya sebagai seorang IRT (Ibu Rumah Tangga). Ketika ayah meninggal, jujur tidak terlintas dipikiran apa yang harus ibu saya lakukan. Beliau tidak pernah bekerja, hanya menjadi IRT dan istri yang baik. Terasa sulit dan sesak jika masih diingat. Hal ini juga membuat ibu saya menyuruh anak-anak perempuannya bersekolah setinggi—tingginya agar mendapatkan bekal juga.

 

Logika diatas memang benar, tapi entah mengapa hal-hal yang dicontohkan di dalamnya adalah perempuan tetap harus waspada karena pernikahan itu tidak abadi, bagaimana kalau nanti dia “laki-laki” selingkuh atau cerai. Seakan-akan bagi saya, perempuan tidak boleh bertumpu pada pernikahan karena bisa jadi berakhir pada perceraian maupun perselingkuhan. Jadi wanita harus tetap bersiap-siap. Hal ini memanglah menyedihkan, namun menurutku pernikahan tidak selalu seperti itu, sebab pernikahan itu bukanlah suatu hal yang main-main.
Oh iya, saya bagi menjadi dua part. Part pertama (part ini) menceritakan opiniku pribadi sebagai pembaca dan part kedua langsung ke bedah ceritanya atau merangkum isi dari buku. Langsung saja ke part 2.

One thought on “Review Buku :The Alpha Girls Guide (Part 1) – Opini Subyektif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *