Rasa yang sama (sembilan tahun yang lalu)

Gadis kecil yang suka merengek itu..
Sekarang telah tumbuh dewasa.
Gadis itu baru belajar menjadi dewasa dengan mimpinya yang bermacam-macam.
Mimpi yang telah diharapkan sedari dulu kala bersama pujaan hati.
Mimpi untuk menetap di Negara orang lain bersama pujaan hatinya yang melanjutkan studi.
Mimpi mengikatkan dasi sang suami dengan senyum penuh arti.
Bermimpi hidup bahagia dengan seseorang itu yang lama ia harapkan.

Tapi semesta tidak tahu menahu,
bahwa mimpi itu hancur dan rasa itu kembali.
Kembali seperti sembilan tahun yang lalu.

Rasa sembilan tahun yang lalu adalah rasa dimana ia benar-benar tidak dapat memahami apapun yang ada didiri.
Sesuatu itu direnggut karena bukan miliknya, sembilan tahun yang lalu ia berusaha meninggikan hati dan terus berjalan kedepan meski tahu itu sulit.
Dan sekarang rasa itu muncul kembali dan lebih pedih. Akankah ia harus mengulanginya lagi?
Untuk melupakan seseorang yang singgah sembilan tahun yang lalu, membutuh waktu yang sangat lama.
Lama rasanya, hampir tiga tahun lamanya.
Padahal hanya berapa bulan singgah dikehidupannya.
Bagaimana seseorang saat ini?

Rasa itu.. dimana hati tiba-tiba membisikkan dengan lugas bahwa “ia kuat untuk melepaskan dan merelakan seseorang yang tidak menyanyangimu dengan ikhlas”.
Dia yang sembilan tahun yang lalu dan dia yang saat ini hanyalah mengasihaninya saja.

Berjalan melangkah, berjalan melangkah, jatuh, bangkit, jatuh kembali, bangkit kembali.
Berulang kali, sampai yang ia tahu hanya doa dan harapan yang dapat dipanjatkan.
Ataukah sampai ia takut dan tidak ingin memiliki harapan yang sama?

Do’a harapan untuk seseorang baru?
Semesta mungkin sudah tahu bahwa harapan itu juga pernah diberikannya kepada seseorang yang terdahulu.
Saat dulu, ketika ia menerima seseorang yang saat ini.
Seseorang yang saat ini sama seperti seseorang sembilan tahun yang lalu.

Berkali-kali berkata agar tak salah langkah.
Yang seseorang saat ini lakukan adalah sama seperti seseorang sembilan tahun yang lalu.
Tidak kurang bahkan lebih kejam.
Tak ada bedanya antara seseorang sembilan tahun yang lalu dan seseorang yang saat ini.

Tidak, sungguh berharga dirinya jika harus mengais-ngais untuk meminta berbelas kasih.
Buat apa dia mencintai seseorang yang terpaksa berbaik hati dengannya.

Wanita itu sungguh berharga, bahkan luka yang digores sedikit saja akan sangat terasa menyakitkan.
Mungkin seseorang itu tidak tahu bahwa mencintai seorang diri itu, sangatlah amat menyakitkan.
Dan mungkin dirinya takkan menemukan seseorang yang sama sepertinya lagi.

Ah entahlah, hanya waktu yang membantu semuanya berjalan dengan indah.
Dan hanya harapan dari penciptalah yang nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *