Review Buku: Habiskan saja Gajimu – Opini Subyektif

Penulis: Ahmad Gozali
Diterbitkan oleh transmedia, 2015
Judul: Habiskan saja Gajimu
ISBN (10) 602-1036-10-X
ISBN (13) 978-602-1036-10-5
Edisi Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 196

1
Buku Habiskan Saja Gajimu

Pertama kali membaca buku ini yang tertuang dalam pikiran adalah betapa mudahnya (enteng) dalam memahami setiap kalimat yang disampaikan. Ketika melihat covernya, sangat jelas tertebak bahwa gajimu itu dibuat apa aja:

  1. Sodakah/infaq (pay your god first)
  2. Utang/cicilan
  3. Tabungan & investasi.
  4. Belanja

Kemudian bulatan-bulatan dicover itu terlihat jelas menujukkan urutan prioritasnya. Tapi yang membuat penasaran mengapa urutannya seperti itu, padahal kalau biasanya orang berpandangan bahwa sodaqoh & tabungan itu kalau ada uang sisa, kemudian utang & belanja bulanan itu kebutuhan mutlak.

Setelah membaca saya dapat menyimpulkan sesaat bahwa buku ini cocok bagi istri-istri yang sedang mengelola keuangan suaminya dan untuk memotivasi orang-orang agar tidak tersesat dalam jurang menghabiskan uang tanpa memikirkan kedepannya.

Buku ini adalah buku lama, kalau tidak salah buku yang saya foto ini adalah cetakan kedua, jadi sudah lumayan lama dari tahun 2013 sampai saat ini tahun 2017. jadi saat ini mungkin sudah tidak beredar lagi buku ini.

Quote didepan:

“Menyisakan gaji adalah cara mengatur keuangan yang menyakitkan dan tidak efektif. Menghabiskannya akan lebih efektif dan tentunya menyenangkan”

Hal yang menarik dibuku ini penggunan kata-kata “habiskan”, “jangan sisakan”. Padahal selama ini kita diajarkan untuk menabung yang berarti kita menyisihkan uang sebagian kita buat menabung. Ternyata menabung adalah sesuatu hal yang tidak boleh disisihkan tapi dibayarkan. Berarti kita harus mengubah mindset menabung menjadi suatu hal yang harus dibayarkan.

Karena pada hakikatnya gaji kita tiap bulan/minggu/hari itu berupa uang dan disetiap lembar uang yang dikeluarkan oleh pemerintah tertulis “Dengan rahmat Tuhan yang Maha Esa, Bank Indonesia mengeluarkan uang sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai…”. Jadi fitrahnya yaaa buat digunakan buat disisihkan.

Jadi bagaimana menggunakannya atau menghabiskannya dijalan yang baik dan benar sesuai dengan urutan prioritas:

  1. Pengeluaran yang bersifat sosial.

Karena semua harta yang kita miliki hanya titipan Allah SWT. Apa susahnya hanya mengeluarkan minimal 2.5% dari hartamu. Jadi misalkan dalam satu bulan gajimu Rp. 3.000.000, sehingga uang yang harus dikeluarkan untuk pengeluaran yang bersiat sosial hanya Rp. 75.000.

By the way, kalau saya sendiri bukan menitik beratkan pada kewajiban akan tetapi “the miracle of giving” (ust. Yusuf mansyur), jadi jika mampu jangan hanya  2.5% saja karena percayalah bahwa Allah akan menggantinya 10X lipat dari sebelumnya. Selain itu juga pasti ada perasaan bahagia karena telah membantu sesama. Ada hadist dan terjemahan ayat qur’an:

“Tidak akan pernah berkurang harta yang disediakan….. kecuali ia bertambah… bertambah… bertambah…” ( HR.at-Tharmidzi )

” Dan janganlah kamu takut kepada kemiskinan karena membelanjakan  harta dijalan Allah…” (QS.ali-Imran 3 : 245)

  1. Pengeluaran untuk cicilan utang

Cicilan utang ini kalau lagi hutan, lagi kredit, KPP, dll. Kalau seandainya tidak ada cicilin utang-utangan bisa lah ya uangnya dialokasikan menjadi pembayaran tabungan atau investasi.

  1. Pengeluaran untuk saving

Pembayaran ini digunakan untuk masa depan kita sendiri (keluarga kita).  Kalau saya sarankan sih tabungan ini lebih baik jangan bentuk uang cash ataupun disimpan didalam rekening. Lebih baik dalam bentuk investasi emas, reksadana, investasi saham, atau pembayaran premi masa depan anak atau sekolah.

  1. Pengeluaran untuk biaya hidup

Uang belanja, biaya listrik, telepon, pulsa, baju, makanan, dan lain-lain merupakan biaya hidup yang fixed tapi lebih fleksibel karena tergantung pemakaian kita boros atau tidak.

Mengapa urutannya seperti diatas?, karena harus dibedakan antara pengeluaran yang bisa ditawar dengan yang tidak (lebih fleksibel atau tidak).

Mengapa sadaqah/zakat dijadikan nomer 1, karena lewat sanalah kita berinvestasi untuk mengurangi resiko yang tidak diinginkan (Seperti; kecelakaan, sakit, pencurian). Selain itu juga kita harus berinvestasi untuk akhirat tidak hanya didunia saja. Ingat hanya 2.5% saja. Kemudian prioritas kedua adalah cicilan kredit/utang, karena jujur saja ketika tidak segera melunasi hutang akan menimbulkan masalah lain. Selanjutnya prioritas ketiga untuk masa depan kita sendiri.

Ada dua golden rules dalam menghabiskan uang dijalan yang benar:

  1. Pay your god first
  2. Saving dulu, baru shoping: menunggu uang sisa diakhir bulan adalah hal yang tidak mungkin dilakukan (benar). Jadi anda harus menabung diawal ketika menerima gaji.

Point ke-dua, kenapa harus dibayarkan untuk ditabung kemudian belanja? Karena kalau shoping dulu baru nabung, pasti setiap kali mengeluarkan uang harus mikir “sisa kan buat bulan ini”, “bulan ini belum nabung”. Alhasil membuat diri ini itung-itungan buat belanja dan menyebabkan orang menjadi perhitungan/pelit, setres ngatur keuangan, belanja apapun jadi tidak nikmat *hiks*.

Point pertama, buatlah dirimu memiliki mental orang kaya yakni mental orang yang tidak merasa kekurangan, atau merasa cukup dengan apa yang sudah dimilikinya. Maka, ia tidak merasa kehilangan ketika berbagi, ketika memberikan, karena merasa “kaya” dan untuk mewujudkan mentalitas orang kaya banyak-banyak menghabiskan uang untuk pengeluaran sosial.

Cashflow miskin

2
Cashflow orang miskin

Dan cashflow orang kaya

3
Cashflow Orang Kaya

Ketika kita merasa gaji naik ternyata pengeluaran juga ikut naik, sehingga perlu dilakukan pengaturan ulang agar pengeluaran naik tapi seimbang maka seperti ini:

4
Pengeluaran naik tapi cashflow tetap orang kaya

Mengapa biaya hidup ditempatkan paling akhir?, tempat paling akhir bukanlah tidak penting tapi akan tetapi berpotensi untuk boros.

“Banyak mendengarkan kata-kata bagaimana mau menabung, lha penghasilan kecil, nge-pas, kadang masih pakai hutang”

Kalau dari pendapatku pribadi sih, karena biaya hidup yang berlebih. Setidaknya kita mulai membiasakan menabung meskipun nominalnya kecil agar kedepannya bisa terus berkembang.

Dalam hal urusan keuangan, pakailah kaca mata kuda. Tidak perlu tengok kanan kiri. Fokuslah masa depan kita, apa yang kita butuhkan. Tidak perlu melihat dia beli mobil, renovasi rumah, tidak perlu mengejar gaya hidup. Karena belum tentu apa yang mereka punya bisa sebahagia yang kita punya.

Perencanaan keuangan sebelumnya seperti ini (dibaca baik-baik):

5
Perencanaan sebelumnya (Rencana keuangan orang miskin)

 

Setelah mengubah mindset menjadi orang kaya seperti ini:

6Perencanaan keuangan orang kaya

Semangat untuk menjadi orang kaya dengan perencanaan keuangan baik dan benar 🙂

7
Baca baik-baik, – habiskan saja gajimu-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *