Titik Harapan yang Sebenarnya

Dalam hening petang
Dalam sujudmu untuk sang pencipta
Dalam sepertiga malammu yang sudah lama kautinggalkan
Dalam sunyi tak berbisik.

Kau..
Kau menangis, berulangkali kau menangis menghujani pipi
memohon ampun kepadaNya.
Karena kau adalah hamba yang penuh salah ..
karena kau adalah hamba dengan banyak kata dusta yang terurai dihidupmu
karena kau adalah hamba yang terlalu jauh bermain dengan harapan manusia
karena kau adalah hamba yang terlalu jauh untuk meninggalkanNya
dan karena kau, terlalu banyak air mata yang mengalir bukan untukNya

Harapan..
Setitik harapan yang kau tujukan untuk manusia,
akan menjadi besar juga di kala waktu berjalan.
di kala kau mengiyakan semua yang tak benar.

Harapan manusia sejatinya adalah harapan palsu.
Bukankah harapan yang nyata hanya diberikan oleh sang pencipta?
Karena manusia hanya dzat yang tak luput dari kata khilaf.

Bukan manusialah letak tumpuan harapan sebenarnya.
Tapi penciptalah yang harusnya kau harapkan.

“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Alam Nasyrah (94): 8)

 

Bahkan didunia yang fana ini tidak ada yang kekal
begitu pula ketika berbicara kematian yang pasti akan menjemput
Apakah masih berharap kepada manusia untuk menolong dirimu?
Siapa yang akan menolong dialam akhiratmu sana?
bukan orang tuamu, bukan teman baikmu, dan bukan teman hidupmu
tapi dirimu sendiri dan caramu berharap kepada Sang Pencipta.

Lalu mengapa masih berharap kepada manusia?

Bukankah yang harus diketahui terlebih dahulu adalah tujuan hidup untuk meyakini sebuah harapan?
Pernahkah sesekali kau berfikir apa tujuan hidup yang sesungguhnya
“Beribadah kepada Allah”
Tujuan hidup sebenarnya bukan untuk sang manusia tetapi hanya untuk beribadah kepada sang pencipta.
Manusia hanyalah perantara.

Lantas apa yang masih dirisaukan ketika hati dikecawakan oleh harapan semu?
Berhentilah sejenak dan usap sakit yang ada, bangkit menuju tujuan sebenarnya.
Karena harapan yang dituju sudah ada di mata.
Lalu mengapa engkau masih galau jika sudah dipastikan oleh Tuhanmu?

Bangkitlah karena
“Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (potongan QS. Al Baqarah: 216)”
Selamat tinggal harapan semu.

-Maritsa Amaliyah-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *